Belajar toilet training adalah salah satu cara melatih si Kecil melakukan berbagai aktivitas secara mandiri. Namun sebenarnya belajar toilet training usia berapa yang ideal? Apakah anak harus sudah bisa menggunakan toilet saat berusia dua tahun, atau perlu menunggu hingga menunjukkan kesiapan tertentu?
Setiap anak memiliki perkembangan fisik, emosional, serta kemampuan komunikasi yang berbeda sehingga waktu keberhasilannya tidak selalu sama. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami usia yang umumnya tepat untuk memulai toilet training.
Tapi belajar toilet training bukan satu-satunya melatih kemandirian. Karena untuk usia tertentu, Anda juga perlu membiasakannya menjaga kebersihan mulai dari memperkenalkan fungsi berbagai jenis tisu untuk menjaga kebersihan sehari-hari.
Apa Itu Toilet Training dan Mengapa Penting untuk Anak?
Toilet training merupakan proses mengajarkan anak mengenali keinginan buang air kecil maupun buang air besar serta menggunakan toilet atau pispot secara bertahap.
Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan melepas popok, tetapi juga melibatkan koordinasi tubuh, komunikasi, pengendalian kandung kemih, dan keterampilan membersihkan diri.
Melalui toilet training, anak belajar memahami sinyal tubuh, menyampaikan kebutuhannya, serta mengikuti rutinitas kebersihan sehari-hari.
Selain mendukung kemandirian, proses ini membantu anak mengenal kebiasaan hidup bersih, seperti menyiram toilet dan mencuci tangan setelah buang air.
Namun, keberhasilan toilet training sebaiknya tidak dijadikan perlombaan perkembangan. Setiap anak membutuhkan kesempatan belajar sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Belajar Toilet Training Usia Berapa yang Dianjurkan?
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kesiapan fisik dan psikologis untuk toilet training umumnya mulai muncul pada usia 18 bulan hingga sekitar 2,5 tahun.
Sementara itu, American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa sebagian besar anak mulai mengembangkan kemampuan mengendalikan buang air pada usia 18–24 bulan, meskipun kesiapan untuk menjalani seluruh proses toilet training dapat muncul lebih lambat.
Dengan demikian,belajar toilet training usia berapa yang ideal? Jawabannya diantara usia sekitar 18–30 bulan. Mulailah dengan mengenalkan pispot, mengajarkan istilah buang air, dan membiasakan rutinitas sederhana sebelum anak benar-benar mampu meninggalkan popok.
Ingat, tidak semua anak harus langsung berhasil pada usia dua tahun. Sebagian anak membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami sinyal tubuh dan membangun kebiasaan menggunakan toilet.
Maka dari itu hal yang terpenting adalah memberikan kesempatan belajar secara bertahap, mempertimbangkan kesiapan anak, serta menghindari paksaan.
7 Tanda Anak Siap Memulai Toilet Training
Selain mempertimbangkan usia, orang tua perlu memperhatikan perkembangan fisik, perilaku, dan komunikasi anak.
Berikut beberapa tanda yang dapat menunjukkan bahwa si kecil mulai siap belajar menggunakan toilet.
1. Popok Tetap Kering Selama Beberapa Jam
Salah satu tanda kesiapan fisik adalah ketika popok anak tetap kering selama sekitar dua jam atau setelah tidur siang.
Kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa kemampuan pengendalian kandung kemih mulai berkembang.
Namun, popok yang masih sering basah bukan berarti orang tua tidak boleh memperkenalkan toilet. Anak tetap dapat diajak mengenal pispot dan rutinitas buang air secara perlahan.
2. Mulai Menunjukkan Keinginan Buang Air
Anak mungkin mulai menunjukkan perilaku tertentu ketika ingin buang air, seperti berhenti bermain, berjongkok, memegang celana, atau mencari tempat yang lebih tenang.
Sebagian anak juga mulai mengucapkan kata sederhana untuk memberi tahu orang tua bahwa dirinya ingin buang air.
Kemampuan mengenali sinyal tubuh ini merupakan bagian penting dalam proses toilet training.
3. Mampu Duduk dan Berjalan dengan Stabil
Menggunakan toilet membutuhkan kemampuan motorik, termasuk berjalan menuju kamar mandi dan duduk dengan posisi stabil.
Anak yang sudah mampu duduk dengan baik biasanya lebih mudah diperkenalkan dengan pispot.
Orang tua dapat menyediakan toilet duduk khusus anak atau dudukan tambahan yang dilengkapi pijakan kaki agar posisi tubuh lebih nyaman.
4. Dapat Mengikuti Instruksi Sederhana
Anak yang mulai memahami instruksi seperti “ayo duduk”, “turunkan celana”, atau “cuci tangan” memiliki kemampuan komunikasi yang membantu proses toilet training.
Instruksi sebaiknya diberikan menggunakan kalimat singkat dan mudah dipahami.
Apabila anak belum mampu mengikuti seluruh langkah, orang tua tetap dapat membantu sambil memperkenalkan kegiatan tersebut secara berulang.
5. Menunjukkan Ketertarikan terhadap Toilet
Sebagian anak mulai penasaran ketika melihat anggota keluarga menggunakan kamar mandi.
Anak mungkin bertanya mengenai toilet, ingin mencoba duduk di pispot, atau meniru kebiasaan orang dewasa.
Ketertarikan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan fungsi toilet melalui penjelasan sederhana.
Namun, anak yang belum menunjukkan minat tetap dapat diajak berkenalan dengan toilet tanpa harus langsung menggunakan atau meninggalkan popok.
6. Merasa Tidak Nyaman dengan Popok Basah
Ketika anak mulai merasa terganggu oleh popok yang basah atau kotor, hal tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan kebiasaan buang air di toilet.
Orang tua dapat menjelaskan bahwa menggunakan toilet membantu menjaga tubuh tetap bersih dan nyaman.
Gunakan bahasa positif tanpa membuat anak merasa malu apabila masih menggunakan popok.
7. Mulai Mampu Melepas dan Mengenakan Celana
Kemampuan menarik celana ke bawah maupun mengenakannya kembali dapat mendukung kemandirian anak ketika menggunakan toilet.
Namun, keterampilan ini tidak harus langsung dikuasai sepenuhnya.
Orang tua dapat membantu anak menggunakan celana yang mudah dilepas, seperti celana dengan pinggang elastis.
Seiring waktu, anak dapat belajar melakukan langkah tersebut secara mandiri.
8 Cara Mengajarkan Toilet Training kepada Anak
Setelah memahami belajar toilet training usia berapa dan mengenali tanda kesiapan anak, orang tua dapat mulai memperkenalkan kebiasaan menggunakan toilet secara konsisten.
1. Perkenalkan Toilet dengan Cara Menyenangkan
Langkah pertama adalah membantu anak mengenal fungsi toilet atau pispot.
Orang tua dapat menunjukkan bentuk pispot, menjelaskan kegunaannya, serta membiarkan anak mencoba duduk ketika masih mengenakan pakaian.
Gunakan cerita atau buku bergambar untuk membuat proses perkenalan terasa lebih menarik.
Hindari memaksa anak duduk apabila menunjukkan rasa takut atau tidak nyaman.
2. Gunakan Pispot yang Sesuai Ukuran Anak
Pispot dengan ukuran sesuai tubuh anak dapat membantu memberikan rasa aman ketika belajar.
Pilih pispot yang stabil, mudah dibersihkan, dan memungkinkan kaki anak menyentuh lantai.
Apabila menggunakan toilet dewasa, sediakan dudukan tambahan dan pijakan kaki.
Posisi duduk yang nyaman dapat membantu anak lebih rileks ketika buang air.
3. Buat Jadwal Toilet Training yang Konsisten
Orang tua dapat memperkenalkan rutinitas menggunakan toilet pada waktu tertentu, misalnya setelah bangun tidur, setelah makan, atau sebelum mandi.
Pada awal latihan, ajak anak duduk sebentar tanpa mewajibkannya langsung buang air.
Durasi sekitar tiga hingga lima menit umumnya cukup untuk latihan awal.
Jika anak tidak berhasil buang air, tetap berikan respons positif dan coba kembali pada kesempatan berikutnya.
4. Ajarkan Anak Mengenali Sinyal Tubuh
Bantu anak memahami sensasi ketika ingin buang air kecil atau buang air besar.
Orang tua dapat menggunakan pertanyaan sederhana seperti “Mau pipis?” atau “Perutnya terasa ingin pup?”
Ketika anak menunjukkan tanda ingin buang air, ajak menuju toilet dengan tenang.
Cara ini membantu anak menghubungkan sinyal tubuh dengan kebiasaan menggunakan toilet.
5. Pilih Pakaian yang Mudah Dilepas
Selama proses toilet training, gunakan pakaian yang praktis agar anak dapat belajar melepas dan mengenakan celana dengan lebih mudah.
Celana berbahan lembut dengan pinggang elastis dapat menjadi pilihan.
Hindari pakaian dengan terlalu banyak kancing atau aksesori yang menyulitkan anak ketika harus segera ke toilet.
6. Berikan Pujian atas Setiap Kemajuan
Apresiasi merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan diri anak.
Orang tua dapat memberikan pujian ketika anak bersedia duduk di toilet, mencoba menyampaikan keinginan buang air, atau berhasil mengikuti rutinitas kebersihan.
Tidak perlu memberikan hadiah besar. Ucapan positif dan perhatian hangat sudah dapat menjadi bentuk penghargaan.
Fokuslah pada usaha anak, bukan hanya hasil akhirnya.
7. Hadapi Kecelakaan dengan Sabar
Selama belajar toilet training, anak mungkin masih buang air di celana atau terlambat menuju kamar mandi.
Kondisi tersebut merupakan bagian yang umum terjadi dalam proses pembelajaran.
Hindari memarahi, mempermalukan, atau membandingkan anak dengan teman seusianya.
Bantu anak membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan tenang.
Respons yang positif membantu anak merasa aman untuk terus mencoba.
8. Ajarkan Kebiasaan Membersihkan Diri
Toilet training juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kebiasaan menjaga kebersihan tubuh.
Ajarkan anak membersihkan area tubuh setelah buang air, menyiram toilet, serta mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
Anak perempuan perlu dibantu membersihkan area genital dari depan ke belakang.
Gunakan perlengkapan kebersihan yang sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan anak.
Orang tua tetap perlu mendampingi hingga anak mampu menjalankan rutinitas kebersihan secara mandiri.
Latih Kemandirian Anak Sejak Dini dengan Kebiasaan Menjaga Kebersihan Bersama Plenty®
Setelah memahami belajar toilet training usia berapa yang tepat, orang tua juga perlu menyadari bahwa melatih kemandirian anak tidak hanya terbatas pada kemampuan buang air kecil dan besar secara mandiri. Masih banyak kebiasaan sederhana lainnya yang dapat diajarkan sejak dini, terutama dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Kebiasaan ini penting diperkenalkan secara bertahap agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan peduli terhadap kebersihan.
Salah satu contohnya adalah membiasakan anak membersihkan meja setelah makan, menyeka sisa makanan di sekitar mulut, atau membantu merapikan area bermain yang kotor. Orang tua juga dapat mengajarkan anak mengambil tisu secukupnya ketika diperlukan, membuang tisu bekas ke tempat sampah, serta mencuci tangan menggunakan sabun setelah beraktivitas. Meskipun terlihat sederhana, kegiatan tersebut dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus membantu membangun kebiasaan hidup bersih sejak kecil.
Untuk mendukung proses pembelajaran tersebut, orang tua perlu menyediakan perlengkapan kebersihan yang praktis dan sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya adalah dengan menghadirkan beragam jenis tisu Plenty® di rumah. Setiap jenis tisu memiliki fungsi berbeda yang dapat membantu anak dan anggota keluarga menjaga kebersihan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.




Dengan menyediakan pilihan tisu yang tepat, orang tua juga dapat mengajarkan anak memahami kapan dan bagaimana menggunakan perlengkapan kebersihan sesuai fungsinya. Tentunya, kegiatan tersebut tetap perlu dilakukan dengan pendampingan dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak.
Melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, proses melatih kemandirian dapat menjadi momen kebersamaan yang penuh perhatian. Sejalan dengan semangat “Sentuhan Lembut Kasih Sayang Tulus”, Plenty® hadir untuk melengkapi kebutuhan kebersihan keluarga sekaligus menemani setiap langkah perkembangan si kecil menuju pribadi yang semakin mandiri.