Kenapa Gen Z Sulit Mendapatkan Pekerjaan? Ini 5+ Alasannya

Sobat See-U kalangan Gen Z merasa sudah kirim puluhan CV, ikut berbagai interview, bahkan rajin mencari lowongan setiap hari, tapi kenapa Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan sih?

MinU tahu banyak sobat See-U  yang mengalami hal serupa. Ternyata semakin hari semakin terasa kalau dunia kerja nggak selalu semudah yang dibayangkan.

Daripada terus overthinking dan menyalahkan diri sendiri, yuk, pahami alasan di balik sulitnya mencari pekerjaan sekaligus cari tahu cara meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan impian!

Kenapa Gen Z Sulit Mendapatkan Pekerjaan di Era Sekarang?

Gen Z dikenal sebagai generasi yang dekat dengan teknologi, kreatif, adaptif, dan terbiasa mencari informasi secara digital. Namun, keunggulan tersebut nggak otomatis membuat proses mendapatkan pekerjaan menjadi lebih mudah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) di Facebook, tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Mei 2026 mencapai 4,65%. Sementara itu, tingkat pengangguran kelompok usia 15–24 tahun mencapai sekitar 17,37%.

Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia muda masih menghadapi tantangan besar dalam memasuki dunia kerja. Meski kelompok usia 15–24 tahun tidak sepenuhnya mewakili seluruh Gen Z, angka ini memberikan gambaran mengenai persaingan kerja yang dihadapi anak muda.

Lantas, apa saja faktor yang membuat Gen Z kesulitan memperoleh pekerjaan?

8 Alasan Kenapa Gen Z Sulit Mendapatkan Pekerjaan

1. Persaingan Kerja Semakin Ketat

Bayangkan, satu lowongan pekerjaan bisa menarik ratusan bahkan ribuan pelamar. Semua punya tujuan yang sama, yaitu mendapatkan posisi terbaik.

Kondisi ini membuat perusahaan memiliki banyak pilihan kandidat. Akibatnya, pelamar perlu menunjukkan kemampuan dan pengalaman yang relevan agar bisa bersaing.

Bukan berarti kamu kurang kompeten, tetapi alasan kenapa Gen Z silut mendapatkan pekerjaan karena terkadang jumlah pelamar memang jauh lebih besar daripada posisi yang tersedia.

Makanya, penting untuk memiliki keunggulan yang bisa membuat profil kamu lebih menonjol dibandingkan kandidat lainnya.

2. Fresh Graduate Dituntut Memiliki Pengalaman

Pernah menemukan lowongan bertuliskan fresh graduate welcome, tetapi persyaratannya meminta pengalaman kerja satu sampai dua tahun?

Rasanya bikin geleng-geleng kepala, ya!

Nah ini alasan kenapa Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan selanjutnya karena adanya kesenjangan antara status lulusan baru dan pengalaman yang dibutuhkan perusahaan.

Untuk mengatasinya, kamu bisa mulai membangun pengalaman melalui magang, organisasi, freelance, volunteer, atau proyek pribadi.

Pengalaman tersebut dapat menjadi bukti kemampuan sekaligus membantu perusahaan memahami potensi yang kamu miliki.

3. Keterampilan Belum Sesuai Kebutuhan Industri

Punya ijazah memang penting, tetapi dunia kerja juga membutuhkan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung.

BPS dalam publikasi tahun 2025 mengenai ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan pemuda mengungkapkan adanya tantangan skill mismatch di Indonesia.

Artinya, kompetensi yang dimiliki pencari kerja belum tentu sesuai dengan kebutuhan industri.

Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus. Kamu bisa mengikuti kursus online, pelatihan, atau sertifikasi untuk meningkatkan kemampuan.

4. CV dan Portofolio Kurang Menarik

CV bukan sekadar daftar pendidikan dan pengalaman. Dokumen ini menjadi kesempatan pertama untuk memperkenalkan kemampuanmu kepada recruiter.

Sayangnya, masih ada pelamar yang menggunakan CV terlalu panjang, kurang relevan, atau tidak menyesuaikan isi dengan posisi yang dilamar. Makanya ini juga termasuk alasan kenapa Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan.

Cobalah membuat CV yang ringkas, informatif, dan menonjolkan pencapaian.

5. Kurangnya Persiapan Menghadapi Interview

Sebelum interview, pelajari profil perusahaan, pahami deskripsi pekerjaan, dan latih jawaban untuk pertanyaan umum.

Jangan lupa datang tepat waktu, menjaga penampilan, dan membawa perlengkapan yang diperlukan.

Percaya diri itu penting, tetapi persiapan yang matang juga nggak kalah penting!

6. Ekspektasi Belum Sesuai Realitas

Setiap orang tentu ingin mendapatkan pekerjaan dengan gaji menarik, lingkungan nyaman, dan peluang berkembang.

Keinginan tersebut wajar banget!

Namun, terkadang ada perbedaan antara harapan pencari kerja dan kondisi pasar kerja.

Misalnya, kamu hanya mempertimbangkan pekerjaan dengan kriteria tertentu, padahal ada peluang lain yang bisa menjadi batu loncatan untuk mengembangkan karier.

Cobalah lebih fleksibel dalam mempertimbangkan posisi yang relevan dengan kemampuan dan tujuan jangka panjangmu.

7. Belum Memanfaatkan Networking dengan Maksimal

Membangun relasi profesional juga dapat membantu kamu mendapatkan informasi mengenai peluang karier.

Kamu bisa mulai dengan memperbarui profil LinkedIn, mengikuti job fair, bergabung dalam komunitas profesional, atau menjalin komunikasi dengan alumni kampus.

Networking bukan berarti meminta seseorang memberikan pekerjaan secara instan.

Sebaliknya, networking membantu kamu belajar dari pengalaman orang lain, memahami kebutuhan industri, serta memperluas akses informasi.

Siapa tahu, kesempatan berikutnya datang dari koneksi yang kamu bangun hari ini!

8. Mudah Kehilangan Motivasi Setelah Ditolak

Kalau melihat teman-teman sudah mulai bekerja, sementara kamu masih berjuang mengirim lamaran.  Perasaan sedih, kecewa, atau lelah itu manusiawi. Dan kurangnya motivasi diri inilah yang menjadi penyebab kenapa Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan.

Terkadang perusahaan memilih kandidat lain karena kebutuhan posisi, pengalaman tertentu, atau pertimbangan internal.

Maka dari itu selalu evaluasi hal yang bisa diperbaiki, beri waktu untuk beristirahat, lalu coba lagi ketika kamu siap.

Tips Gen Z agar Lebih Mudah Mendapatkan Pekerjaan

Setelah memahami kenapa Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan, sekarang saatnya menyusun strategi agar proses mencari kerja menjadi lebih terarah.

1. Tingkatkan Skill yang Relevan

Pelajari keterampilan yang banyak dibutuhkan sesuai bidang pilihanmu. Misalnya, digital marketing, data analysis, desain grafis, komunikasi, atau kemampuan bahasa asing.

Kamu nggak harus menguasai semuanya sekaligus. Mulailah dari keterampilan yang paling sesuai dengan minat dan tujuan karier.

2. Sesuaikan CV dengan Lowongan

Hindari mengirim CV yang sama untuk semua posisi tanpa memeriksa persyaratannya.

Gunakan kata kunci yang relevan dengan deskripsi pekerjaan dan tampilkan pengalaman yang paling mendukung posisi tersebut.

Pastikan juga informasi kontak mudah ditemukan dan tidak ada kesalahan penulisan.

3. Bangun Personal Branding

Tunjukkan kemampuan, minat, dan pengalamanmu melalui platform profesional.

Kamu dapat membagikan proyek, hasil karya, pengalaman organisasi, atau pembelajaran baru.

Personal branding yang baik bukan tentang terlihat sempurna, tetapi menunjukkan siapa dirimu dan nilai yang dapat kamu berikan.

4. Konsisten Melamar dan Mengevaluasi Hasil

Buat target melamar pekerjaan yang realistis setiap minggu.

Catat perusahaan yang sudah dilamar, posisi yang dituju, serta perkembangan proses seleksi.

Kalau belum mendapat respons, evaluasi CV, portofolio, dan strategi pencarian kerja.

Ingat, konsistensi bukan berarti harus memaksakan diri setiap hari. Istirahat juga penting agar kamu tetap punya energi untuk melanjutkan perjuangan.

5. Jangan Takut Memulai dari Kesempatan Kecil

Pekerjaan impian nggak selalu datang sebagai kesempatan pertama.

Terkadang kamu perlu memulai dari magang, proyek freelance, atau posisi junior untuk mengumpulkan pengalaman.

Selama kesempatan tersebut aman, sesuai kemampuan, dan memberikan ruang berkembang, pengalaman kecil bisa menjadi langkah berarti menuju karier yang lebih besar.

Jangan Menyerah, Pekerjaan Impianmu Masih Layak Diperjuangkan!

Sekarang kamu sudah tahu kenapa Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan. Mencari kerja memang nggak selalu mudah, apalagi ketika setiap lamaran terasa penuh harapan tetapi hasilnya belum sesuai keinginan.

Ada hari ketika kamu semangat mengirim CV, ada juga hari ketika kamu ingin menangis setelah menerima email penolakan. Nggak apa-apa merasa sedih, kecewa, atau lelah. Yang penting, jangan biarkan satu kegagalan membuatmu berhenti percaya pada kemampuan diri sendiri.

Setiap interview, setiap lamaran, dan setiap pengalaman adalah bagian dari proses menuju pekerjaan impianmu. Jangan bandingkan perjalananmu dengan orang lain, karena setiap orang punya waktu dan kesempatan yang berbeda.

Dan jangan lupa, selalu bawa Tissue See-U dalam tasmu! Siap menemani perjalanan mencari kerja, mulai dari mengusap keringat saat gugup sebelum interview hingga menghapus air mata ketika hasilnya belum sesuai harapan. Setelah itu, rapikan diri, angkat kepala, dan persiapkan langkah berikutnya dengan lebih percaya diri.

Karena Tissue See-U percaya, setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri, berani bermimpi, dan terus berusaha mewujudkannya.

Yuk, terus berjuang mengejar pekerjaan impianmu! Usap air mata, seka keringat, dan jangan berhenti melangkah bersama Tissue See-U. Be Yourself, Inspire Others!